My Blog

Minggu, 04 Oktober 2020


Hello! Welcome to my Blogger. Cerita ini siap menemanimu dikala malam minggu~

Apa kamu yakin kamu sendirian di tempat itu? Coba lihat kanan, kiri, atas, bawah bisa saja mereka yang disembunyikan oleh semesta berada disana~

CERPEN HOROR 3

1..2...3..Cekrik


Malam itu, Dini duduk di sofa ruang tamu. Ia memiliki satu adik laki-laki yang bernama Denta.  Saat itu, ia berumur 15 tahun dan adiknya berumur 10 tahun. Dini sangat suka mengabadikan moment dengan memfoto, ia memang ahli dalam seni. Bakat itu ia dapat dari ayahnya seorang pelukis. Rumah mereka sangat aesthetic, dari luar rumah disuguhkan lampu petromak. Ayahnya sangat suka mengoleksi barang-barang antik termasuk keris. Denta yang datang dari arah kamar menghampiri Dini.

“Mbak, deloken tabletku anyar” kata Denta sambil mengangkat tablet.

(Mbak, lihat tabletku baru)

 “Halah, kemenyek” kata Dini sambil melirik adiknya.

(Halah, sok-sokan)

Dini yang kesal langsung bermain gawai. Denta membuat mood swings Dini. Tiba-tiba ayahnya datang membawa kamera kuno yang ia beli di online shop.

“Assalamualaikum” kata ayahnya Dini sambil membuka pintu.

“Waalaikumsallam” jawab mereka.

Ibu dini yang di dapur langsung keluar dan menyambut suaminya.

“Gowo apa iku yah?” kata ibunya Dini penasaran

(Bawa apa itu yah?)

“Kamera lawas, tuku nang olshop” kata ayahnya Dini sambil menunjukkan kotak kardus yang berisi kamera.

(Kamera jadul beli di olshop)

“Tak jupuke gunting” kata ibunya Dini lalu ke dapur.

(Saya ambilkan gunting)

“Wih keren iki. Kamera lawas iku regane larang ya yah?” kata Dini penasaran

(Wih keren ini. Kamera jadul itu harganya mahal ya yah?)

“Iyo, tapi mergo ayah seneng koleksi barang antik lan ora duwe kamera yo tak tuku wae. Sesok yen liburan bisa poto-poto” kata ayahnya Dini

(Iya, tapi karena ayah suka koleksi barang antik dan tidak punya kamera ya saya beli aja. Besok kalau liburan bisa foto-foto)

“Kapan yah liburane?” tanya Denta penasaran

“Yo sesok yen ayah prei” kata ayah Dini

(Ya besok kalau ayah libur)

Ibunya Dini datang membawa gunting. Ayah Dini membuka isi kotak kardus itu. Terlihat kamera yang dibungkus bubble wrap. Kamera itu berwarna coklat klasik dan terlihat masih bagus.

“Piye? Apik to?” kata ayahnya Dini sambil tertawa.

(Gimana?Bagus kan?)

“Wih iyo, sangar eh” kata ibunya Dini

(Wih iya, keren eh)

Ayah dini mencoba kamera itu. Ia mencoba memfoto pintu dan hasilnya ternyata berwarna. Ia kira hasil fotonya akan hitam putih, ternyata sudah di upgrade. Setelah puas dengan hasil foto, ayah dan ibunya Dini masuk ke kamar istirahat karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dini yang masih penasaran dengan kamera itu melihat-lihat hasil foto ayahnya tadi. Memang kameranya kuno namun kontras dan warna hasil foto sangat bagus pikirnya. Ia mencoba memfoto tangga di depannya. Hasilnya masih sama bagusnya dengan hasil foto ayahnya. Adiknya memiliki ide

“Mbak, fotoen aku pas gowo tablet anyarku” kata Denta sambil menjentikkan tangan.

(Mbak, fotoin aku saat bawa tablet baruku)

“Emoh, arek kok seneng pamer” kata Dini kesal

(Gak mau, anak kok sukanya pamer)

“Rapopo ta mbak, age lah” kata Denta memaksa

(Gak apa-apa dong mbak, ayo lah)

“Ya wis ndang” kata dini sedikit kesal.

(Yasudah ayo)

“Sek tak nang kamar mandi, kebelet pipis aku” kata Denta

(Sebentar aku mau ke kamar mandi, kepingin kencing)

“Ya cepetan” kata Dini

(Ya, buruan)

Adiknya langsung lari ke kamar mandi dengan terbirit-birit. Kamera yang ia pegang masih menyala. Ia mencoba mengarahkan ke pintu, tiba-tiba ada yang mengintip dan matanya melotot. Mata dini langsung melotot dan melihat ke arah pintu.

“Astagfirullahaladzim apa kuwi” Dini sangat kaget.

(Astagfirullahaladzim apa itu)

Namun tidak ada apa-apa disana. Ia mencoba mengarahkan kamera ke arah tangga. Tiba-tiba ada nenek-nenek duduk disana. Lagi-lagi dini melotot karena terkejut. Ia melihat ke arah tangga dan tidak ada siapapun. Terdengar siul dari adiknya yang keluar dari kamar mandi. Adiknya menuju kearah Dini yang masih syok.

“Ayo mbak” kata Denta sambil memegang tablet

Dini masih syok namun ia tak mau bercerita karena ia menganggap salah lihat saja. Denta berpose dengan membawa tablet. Denta berdiri dengan jarak 100 cm. Saat Dini melihat ke arah layar hanya ada adiknya saja yang membawa tablet. Namun saat ia melihat hasil fotonya, ada nenek-nenek yang berdiri di belakang adiknya.

“Piye mbak? Apik ora?” kata Denta penasaran.

(Gimana mbak? Bagus tidak?)

“Baleni, burek iki” kata Dini sedikit menahan takut.

(Ulang, kurang jelas ini)

Adiknya percaya dan mengulangi foto. Hasil foto kedua terlihat nenek itu berjarak 50 cm dari tempat Dini. Ia mengulanginya lagi. Saat foto ketiga, layar kamera menjadi gelap. Saat Dini menurunkan kameranya, ternyata wajah nenek itu tepat di hadapan Dini. Jarak antara wajah Dini dan nenek itu hanya 5 cm saja. Mata nenek itu melotot, Dini gemetar dan berteriak. Ia tak sengaja melempar kamera ayahnya. Ayah dan ibunya Dini kaget mendengar teriakan dini.

“Ana apa to Din?” kata ibunya Dini

(Ada apa Din?)

“Iyo kamerane kok mbok uncalke piye iki?” kata ayahnya Dini

(Iya kameranya kok kamu lempar gimana ini)

Wajah dini pucat dan ia mengatakan 

“Ana si mbah yah, deloken dewe” sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

(Ada nenek yah, lihat sana sendiri) 

Dini sangat ketakutan dan menangis. Badannya gemetar dan ia merasa lemas.Denta hanya diam seperti patung karena tak mengerti. Ayah dan ibunya Dini yang tak percaya langsung melihat hasil foto di kamera. Terlihat hanya ada adiknya saja. 

“Ora ana apa-apa ngene loh Din. Awakmu halu palingan” kata ayahnya Dini sambil melihat hasil foto

(Tidak ada apa-apa gini loh Din. Kamu halu mungkin)

“Tenan yah, ora ngapusi aku” kata Dini

(Beneran yah, aku tidak bohong)

“Wis turu kono” kata Ibunya Dini

(Sudah tidur sana)

Mereka menganggap Dini hanya berilusi saja. Dini mulai lemas dan pingsan. Setelah kejadian itu dia menjadi demam Saat ia sembuh ia mencari tahu siapa pemilik kamera yang dibeli ayahnya. Ternyata si Mbah yang dilihatnya adalah pemilik kamera itu.

Minggu, 27 September 2020

CERPEN HOROR 2

 GARA-GARA BEGADANG


(Sumber : Pinterest.com)

“Jangan lupa ya guys aku besok ultah” chat Ufa di watsup group. Aku tak merespon chatnya karena aku akan memberikan surprise kepadanya.

Aku berniat begadang hari ini biar bisa ngasih Ufa ucapan Happy Birthday. Tapi hal itu membuatku kapok. Memang benar kata bang haji, begadang jangan begadang kalau tiada artinya.

Malam itu aku sedang membuat video yang isinya foto-foto Ufa. Mengedit video memang hobiku. Walaupun aku tak profesional, tapi hasilnya not bad lah.

“Tumben malam ini sepi, biasanya tetangga depan kos rame” kataku  penasaran.

Aku adalah seorang mahasiswi. Kampusku ada di Malang. Jarak rumah dan kampusku sangat jauh jadi aku memutuskan ngekos. Biaya kos ku tak terlalu mahal menurutku tapi fasilitasnya cukup bagus. Jadi anak kampus pasti tak asing dengan kata begadang. Aku termasuk kategori manusia kampus kura-kura. Yup, kuliah rapat kuliah rapat. Karena tiap hari rapat bikin aku begadang. Kali ini aku begadang yang tiada artinya.

Karena pukul 00:00 masih kurang 4 jam lagi, aku memutuskan untuk membuat mie instan. Sebenarnya aku sedang diet tapi aku mengikuti slogan ciwi-ciwi Diet Mulai Besok. Aku menuju dapur untuk masak mie. Jarak dapur ke kamarku hanya 5 langkah kayak lagunya mbak Iceu Wong. Sambil menunggu air mendidih, aku duduk di tangga. Aku melihat seorang ciwi pakai daster putih berjalan. Sebagai anak kos yang baik, aku menyapanya.

“Malam mbak” kataku sambil tersenyum

Ia hanya melihatku dan pergi naik tangga lagi.

“Gendeng, aku nyopo padahal. Mbok yo di jawab” kataku menggerutu.

(Gila, padahal aku menyapanya.Setidaknya di respon)

Aku mendengar suara air sudah mendidih. Ku masukkan mie instan biar berendam di air panas. Semenit kemudian, tampak rambut kuning keritingnya mulai terurai. Tandanya mie ku sudah matang. Tanpa dosa aku membiarkan panci di bak cuci piring. Akupun pergi ke kamar menikmati mie.

Jam sudah  menunjukkan pukul 21.00 yang artinya 3 jam lagi. Aku melanjutkan mengedit video untuk temanku. Aku mencari foto aibnya mulai dari tidur ngiler, foto blur, foto dia jatuh dan masih banyak lagi.

Jam 23:59 tiba. Aku secepat mungkin mengetik ucapan happy birthday dengan kalimat-kalimat wish lainnya.

Happy birthday Ufa,

Semoga sehat selalu, mendapat rezeki yang melimpah.

Semoga apa yang kamu cita-citakan dan inginkan tercapai

Wish You All The Best

Your beloved friend

dl”

Ditambah aku juga mengirim video untuknya. Jam 00:00 chat dan video yang kubuat sepanjang malam terkirim.

“Wah terimakasih banget. Bangkek itu kenapa foto gue jelek bet dah” katanya di chat

“Wkwkwkwk, iya dong. Keren ga videonya?” respon chatku sambil tertawa saat mengetiknya.

“Iye keren. Makasih <3” katanya

Aku senang karena temanku puas.Tapi aku melupakan sesuatu

“Astagfirullahaladzim, lupa belum sholat isya” kataku sambil menepuk jidat

Aku ngechat senior yang jadi gebetanku. Sudah ku beri lampu hijau, dia malah menggantungku. Apa bedanya dengan kehidupan jombloku. Aku kira aku akan naik tahta jadi tak jomblo.

“Eh, spam chat terus ya. Aku lupa belum sholat” kataku di chat

“Kenapa emang? Faedahnya apa?”balas chatnya

“Soalnya aku gak berani. Gatau kenapa sepi banget ini kosan” balasku

“Iya aku spam” balas chatnya

Aku membuka pintu kamar kos dan berlari menuju tempat wudhu. Aku masih mendengar bunyi notification dari hpku. Aku memang merasa tidak terlalu takut karena bunyi notification dari hp ku tapi tetap saja, kosku sangat sepi sesepi isi watsup jomblo. Aku tak bisa membohongi ketakutanku jika sepi. Setelah selesai wudhu secepat kilat aku menuju kamarku.

Saat aku sudah di kamar dan mengunci pintu, tiba-tiba aku mendengar suara sepatu jinjit turun dari tangga

…klotak..klotak…klotak…klotak…

Aku mengintip dari jendela dan tidak ada siapa-siapa. Aku menutup jendela dan memakai mukenah. Tiba-tiba aku mendengar suara kran air. Satu-satunya sumber suara kran air jika bukan dari kamar mandi ya dari tempat wudhu. Saat aku intip dari jendela, tidak ada siapa-siapa. Bodohnya aku memastikan kran air sudah ku tutup atau belum. Aku membuka pintu dan ku lihat kran air tak mengalirkan air lagi.

“hah” aku syok melihat mbak daster putih menatapku.

Baru dua detik aku mengalihkan pandangan dia sudah menghilang. Aku mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak ketemu. Dia tiba-tiba menghilang seperti doi yang meninggalkanku pas lagi sayang-sayangnya. Saat menuju kamarku sejauh 20 langkah, aku teringat sesuatu. Penghuni kos diatas tidak ada karena diatas hanya loteng. Aku pun lari terbirit-birit dan mengunci pintu kamar.


Jumat, 18 September 2020

CERPEN HOROR 1

 

SANG JUARA

sumber : pinterest.com 

"Apa kau akan melakukannya?" Kataku sambil memakan buah apel.

"Ya tentu" katanya sambil berbisik. Ia tak ingin suaranya terdengar oleh mama. Walaupun aku tahu, tak akan pernah ada orang yang mendengarnya.

Aku pergi ke balkon kamarku. Aku melihat sang surya telah bangun. Aku tak menyangka aku bisa bangun sepagi ini. Biasanya aku terlambat masuk sekolah karena ulahnya. Entah itu mematikan alarm atau menutup telingaku. Hari ini kelihatannya kami sedang berbaikan.

Aku meregangkan otot-otot kaku.

Kretek...

"Uh enaknya" kataku sambil meregangkan kedua tangan.

Terdengar dari bawah mama sudah berteriak memanggilku dengan sebutan Ria. Walaupun itu bukan namaku. Aku pun meninggalkan jejak tanganku di kayu pagar balkon. Aku menuruni tangga siku-siku yang hanya 15 langkah dan menuju ruang makan. Aku melihat mama menyiapkan sarapan dan papa duduk manis sambil membaca koran.

"Pa, ma selamat pagi" kataku sambil menyeret kursi lalu duduk.

"Pagi" kata mereka tanpa menatapku

Mama menaruh telur mata sapi diatas piringku. Tak seperti biasanya kami memakan daging. Mungkin stok daging sudah habis. Papa melipat koran dan memandangku. Sebetulnya aku tak menyukai pandangan papa karena papa selalu memandangku penuh teka teki. Aku tau papa tak menyukainya karena dia pernah menjatuhkan guci papa saat bermain denganku. Aku tak menyangka papa bisa melihat dan mendengarnya.

"Apa yang akan kamu lakukan bersamanya" kata papa sambil mendekap tangan

"Tak ada ku rasa" kataku sambil melihat arah tangga.

Aku melihat dia bersembunyi karena takut melihat papa. Papa sangat galak katanya walaupun bagiku tak begitu. Hanya saja papa akan galak jika ada yang membantah.

"Hari ini papa antar kamu" kata papa sambil memotong telur mata sapi menjadi empat bagian.

Mama ikut bergabung makan dengan kami. Mama menuang jus orange untukku.

"Ma, tumben bukan daging" kataku sambil memakan telur mata sapi

"Ya mau gimana lagi, belum panen" kata mama sambil memotong telur sedikit demi sedikit. Mama tak terlalu menyukai telur, mama lebih menyukai daging dengan sirup merah kental.

Setelah sarapan pagi aku kembali ke kamarku untuk bersiap-siap. Dia duduk di kasur dan melipat tangannya. Dia terlihat sedih ketika aku sekolah. Setiap kali aku pergi ke sekolah dia selalu ingin ikut. Katanya jika di rumah bertemu papa dia akan dimarahi tapi jika bertemu mama dia akan disuruh-suruh. Dia sangat bosan hanya di kamarku. Tapi mau bagaimana lagi, dia akan mengacaukan semuanya jika ikut bersamaku apalagi emosinya yang tak stabil.

“Aku berangkat dulu” kataku lalu beranjak pergi

Papa sudah menungguku di bawah. Kami berangkat menaiki mobil hitam. Sebetulnya aku tak menyukai mobil papa karena terkadang bau anyir tercium oleh indera pembau ku.

Hanya butuh beberapa menit kita sampai di depan sekolahku. Aku turun dari mobil dan berjalan ke sekolah. Saat di depan gerbang, papa melambaikan tangannya padaku aku pun membalasnya. Aku berjalan dengan hati gembira karena aku akan mengganti semuanya.

“Eh ria, dianter papa kamu ya” kata Rosa yang datang tiba-tiba

“Iya rosa” kataku sambil membenarkan poni

“Kamu uda belajar belum?” kata rosa merangkul pundakku

“Sudah” kataku

“Yah aku belum gimana dong” katanya dengan muka cemas

“Oalah ya kamu bisa belajar selama 20 menit sebelum bel masuk” kataku dengan santai

Dia meninggalkanku dan menuju ruang kelas. Aku menyusulnya dengan jalan bersantai.

Rosa adalah perempuan yang pintar dan beruntung. Dia selalu mendapat juara kelas namun urutan kedua. Dia adalah seorang pembohong besar bagiku karena dia selalu berkata tak mengerti, tak belajar namun hasil ujiannya selalu bagus. Dia sangat ingin menjadi perempuan paling pintar dan dipuja di seluruh dunia. Dia bahkan melakukan apapun agar dia bisa mencapai keinginannya.

Jam pelajaran dimulai, hari ini berlangsung ujian matematika. Aku mengerjakan ujian dengan santai karena aku sudah belajar dan memahami materi. aku melirik ke arah rosa yang kebetulan ada di depanku. Ia terlihat melirik sesuatu di dekat Putri si juara satu. Aku tahu dia akan memulai aksinya.

“Apaan tuh put?” kata Rosa menoleh kearah Putri

Sontak semua orang kaget dan menoleh kearah Putri termasuk bu Reta.

“Ada apa Rosa?” kata bu Reta

“Itu bu saya lihat ada kertas di loker meja Putri” kata Rosa

“Gak mungkin, aku ga nyembunyiin apapun kok” kata putri

Bu Reta menuju bangku putri, ia merogoh loker mejanya. Ternyata benar ada contekan rumus. Semua murid melihat ke arah bu Reta.

“Apa ini?” kata bu Reta

“Buu..bukan saya bu” kata Putri sambil ketakutan

“Lalu apa kertas ini tiba-tiba ada di lokermu? Mustahil!” kata bu Reta

“Tapi bu saya..” belum selesai Putri menjelaskan bu Reta memotongnya

“Sudah, ikut ibu ke ruang kepala sekolah” kata Bu Reta menarik tangan putri.

Putri pun dibawa ke ruang kepala sekolah. Putri di introgasi oleh kepala sekolah. Ia tetap mengaku bahwa ia tak menyontek dan tak tahu apapun tentang kertas itu. Bapak kepala sekolah tentu saja tak percaya dan melihat cctv kelas.

“Baik, biar cctv berbicara” kata kepala sekolah

Putri menghela nafas karena akan terbukti bukan dia pelakunya. Saat di putar rekaman cctv kelas ternyata cctv waktu itu dimatikan. Kepala sekolah menduga bahwa putri sengaja melakukannya agar tidak ada yang tahu.

“Benar-benar keterlaluan kamu putri. Kamu sudah saya beri beasiswa tapi kamu melakukan hal yang tak senonoh?” kata kepala sekolah dengan marah

“Tapi bu, bukan saya” kata putri sambil meneteskan air mata

“Sudahlah, saya akan mencabut beasiswa kamu karena saya tak bisa memberikan beasiswa kepada murid yang tidak jujur” kata kepala sekolah dengan tegas

Putri hanya bisa bersedih karena beasiswa adalah satu-satunya cara agar dia bisa bersekolah. Putri kembali ke ruang kelas dan membereskan buku-bukunya. Ia pergi dari ruang kelas. Rosa terlihat sangat puas karena rencananya berhasil.

Bel istirahat berbunyi. Semua murid pergi ke kantin kecuali aku. Aku mendengarkan music di kelas karena aku membawa bekal. Aku tak suka makanan kantin karena membuatku alergi. Memang sangat higienis dan harganya tak terlalu mahal tapi aku lebih menyukai masakan mamaku. Rosa dan teman-temannya menghampiriku sambil membawa cilok.

“Eh gimana ujian tadi susah ya?” katanya dengan sangat lugu

“Iya nih aku tadi gak bisa 5 nomor” kata temannya

“Aku juga banyak yang gabisa” kata temannya

“Kamu gimana Ria? Susah ga?” kata Rosa dengan muka lugu

“Biasa aja” kataku sambil melihat gawai tanpa meliriknya

Bel masuk pun berbunyi. Semua murid masuk ke kelas. Bu Reta datang dengan membawa hasil ujian. Aku tak menyangka bu Reta cepat juga mengoreksi ujiannya.

“Anak-anak, di jam kelima ini saya membagikan ujian kalian” kata bu Reta

Bu Reta mulai menyebutkan nama dengan hasil ujiannya. Saat bu Reta memanggil nama Rosa

“Rosa 95” kata bu Reta

Semua murid tepuk tangan karena sebelumnya semua nilai sangat jelek. Sementara hanya Rosa yang paling bagus

“Bagus sekali Rosa, pertahankan ya” kata bu Reta

“Terimakasih bu” kata rosa dengan senyum liciknya

“Nah begini anak-anak contoh yang baik. Lihat Rosa dia pasti tekun belajar sampai mendapat nilai yang sangat bagus padahal soal yang ibu beri sangat susah” kata bu Rosa.

Bu rosa melanjutkan menyebutkan nama dan hasil ujiannya. Saat tiba giliranku

“Ria, 100” kata Bu Reta

Sontak seluruh kelas langsung heboh

“Waw gila” kata salah satu murid

Aku menuju meja bu Reta mengambil hasil ujianku

“Selamat ya Ria. hebat sekali kamu” kaat bu Reta sambil tersenyum kepadaku

            “Terimakasih bu” kataku tanpa tersenyum. Aku berbalik badan dan melihat wajah Rosa kesal. Aku tahu, dia akan masuk dalam jebakanku.

Bel pulang terdengar. Rosa menghampiriku dan teman-teman di tempat duduk seperti terminal.

            “Wah Rosa pinter banget sih” kata salah satu teman

            “Ah engga aku ga belajar padahal” kata rosa dengan wajah lugu. Aku benar-benar muak melihat dia dan mendengar kata-kata pamungkasnya. Ingin ku ambil saja pita suaranya agar tak pernah berkata seperti itu lagi.

            “Ah papa ku sudah datang. Aku duluan  ya” kataku lalu naik mobil. Papa tak menyambut teman-temanku karena di mobil papa bukan hanya papa. Sangat membuatku muak jika papa membawanya lagi. Bau anyir terus menggangguku. Uh, menyebalkan jika papa membawa daging yang masih berbau.

            “Baru ya pa?” kataku sambil melihat spion depan

            “Iya, dia tak bisa diam” kata papa sambil memutar lagu

            Beberapa menit kemudian aku dan papa sampai di rumah. Saat ku buka pintu, mama menyambutku dengan pelukan. Aku membalas pelukan hangat mama. Aku naik menuju kamarku. Aku memanggilnya tapi sepertinya ia tak mendengarku.

            Aku berbaring di ranjangku. Ku lepas dasi yang sebenarnya sedikit mengikat leherku karena kancing kerah aku tutup. Memang terlihat sedikit culun namun ini demi menutupi lukaku.

            “Kau sudah pulang” wajahnya tepat di atas wajahku.

            “Ya, bisakah kau minggir” kataku sambil mendorongnya

            Tak sampai dia terjatuh. Dia mulai tertawa kecil, sepertinya dia tau apa yang telah terjadi. Tapi bisa jadi ini ulahnya karena dia bosan di kamarku.

            “Apa kau tau? Apa yang dilakukan Rosa?” kataku sambil melepas karet di rambutku

            “Tentu saja” katanya sambil melihat nilai ujianku

            “kenapa dia melakukannya? Apa itu ulahmu?”

            “ Ya tentu saja. Bagaimana? Apa kau menikmatinya?”

            “Ya sedikit. Apa yang kau katakan?”

            “Hanya bergurau saja” katanya dengan tertawa khasnya

            “Apa?” kataku penasaran

            “Jika kau tak bisa membuat dirimu unggul, buat saja orang yang lebih unggul darimu menjadi bodoh. Apa kau paham?” katanya sambil mengangkat salah satu alisnya

            “Waw, kau sangat licik” kataku

            Dia hanya tertawa dengan  begitu keras. Mungkin seluruh kota bisa mendengarnya namun tak ada yang bisa mendengarnya kecuali aku.

            Keesokan paginya, bu Reta mengadakan ujian lagi. Kali ini bu Reta hanya menggantikan bu Resi yang sedang sakit. Bu Reta membagikan kertas ujian tapi tiba-tiba bu Reta berhenti tepat di antara mejaku dan meja Nisa. Bu Reta menunduk lalu melihat loker meja Nisa dan ternyata ada kertas disana. Bu Reta mengambil kertas itu dan isinya adalah contekan. Sekali lagi Rosa memenangkan game ini.

            Hal ini terus terjadi ketika ujian. Banyak murid yang peringkat dibawah Rosa atau yang selalu dipuji oleh para guru menjadi jatuh. Banyak guru yang kecewa dengan sikap mereka namun ada juga yang penasaran kenapa bisa mereka melakukan itu. Hanya tersisa aku yang belum diajak bermain oleh Rosa.

            Hari ini Rosa mempersiapkan jebakan untukku. Namun kali ini bukan cara klasik, cara ini sangat istimewa. Rosa tak tahu kalau ini adalah the end game untuknya. Saat di kelas..

            “Eh Ria, boleh minjem hp gak?” katanya dengan wajah polos

            “Untuk apa?” kataku tanpa melihat wajahnya. Pandanganku fokus ke buku paket yang sedang ku baca.

            “Iya gapapa, lagi bosan” katanya

            Awalnya aku tak ingin memberikan ponselku karena aku yakin, Rosa akan melakukan hal yang bisa menjatuhkanku. Tapi tiba-tiba aku melihatnya duduk diatas ranting pohon dan memberiku isyarat untuk mengiyakan apa yang Rosa minta. Akupun menurutinya karena selebihnya ku serahkan padanya

            “Nih” aku menyodorkan hpku

            “Makasih ya” katanya lalu membalikkan badan

            Ternyata Rosa memberi chat jawaban soal ujian yang akan dimulai. Tak segan-segan Rosa memberikan foto soal yang Rosa curi agar nantinya bu Reta menganggap aku mencuri soal ujian. Akupun semakin membuat rencananya lebih mulus dengan berpura-pura ke kamar mandi. Rosa mendekati tasku yang kebetulan ku taruh diatas meja lalu memasukkan soal ujian ke tasku. Rosa juga mengirimkan chat di grup berupa jawaban soal ujian melalui hp ku agar saat ujian nanti semua hp berbunyi. Dia mengatur waktu agar chat bisa terkirim dengan tepat waktu. Benar-benar rencana yang sangat matang.

            Aku kembali ke kelas dan bu Reta juga datang. Setelah bu Reta berpidato singkat tentang ujian beliau meminta semua tas berada di depan agar bisa diperiksa. Selain itu beliau juga memeriksa loker meja setiap murid. Saat beliau membuka tasku, ada soal ujian di dalam tasku. Beliau sangat terkejut dan tak percaya akan hal itu.

            “Apa ini?” kata bu Reta sambil membanting kertas soal ujian

            Aku bersikap seolah-olah tak tahu apa-apa. Tiba-tiba hp semua murid berbunyi bersamaan termasuk hp bu Reta. Tertulis aku mengirim jawaban dari soal ujian dan itu jawaban yang benar. Bu Reta langsung menamparku.

            “Kau sangat keterlaluan” bentak bu Reta

            Aku diam dan dingin. Sebentar lagi semua akan berakhir kataku dalam hati. Aku di seret bu Reta dengan kasar ke ruangan kepala sekolah. Bu Reta sangat marah saat menjelaskan kejadian tadi. Aku hanya diam seribu kata dan hanya mendengarkan ocehan mereka. Kepala sekolah memutuskan untuk mengeluarkanku dari sekolah karena hal tak pantas sudah ku lakukan. Aku pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah dan berjalan senang.

            “Mungkin sekarang kau senang, tunggu beberapa jam setelah ini” kataku bergumam

            Aku mengambil tasku lalu pergi meninggalkan kelas. Bu Reta menjelaskan bahwa aku dikeluarkan dari sekolah dan menunda ujian. Bu Reta pergi meninggalkan kelas mengambil buku yang ada di mejanya. Bu Reta kaget setengah mati ada kertas ujian dengan darah di meja bu Reta. Tanpa pikir panjang bu Reta membuang kertas itu lalu pergi. Pelajaran biasa dimulai, semua murid bergumam tentangku. Semua murid tak bisa mempercayai jika aku melakukan hal itu. Hanya demi mendapat nilai bagus, apa aku harus mencuri? Itu menjijikkan. Aku tak benar-benar pulang. Aku menemaninya di taman dekat sekolah. Dia bermain dengan gembira.

            “Apa selanjutnya?” kataku sambil menatap dia

            “Pulanglah. Aku yang menunggunya disini” katanya dengan serius

            Aku pulang dengan berjalan kaki. Terdengar bel pulang sekolah berbunyi. Rosa pulang jalan kaki melewati taman dekat sekolah. Rosa duduk di ayunan dan bergumam sendiri

            “Akhirnya, kini aku menjadi sang juara. Hanya aku yang akan dipuji hanya aku yang akan terpandang” katanya sambil tertawa jahat.

            Tiba-tiba..

            “Apa kau senang” wajahnya tepat di wajah Rosa

            “Ss…siapa kau?” kata Rosa sambil ketakutan

            Aku sudah sampai di rumah. aku tak menceritakan kejadian di sekolah kepada orangtuaku. Aku masuk ke kamar dan mengintai perbuatannya dengan Rosa melalui teropong.

            “Bagaimana rasanya? Hahahahaha. Dasar wanita maruk, pendusta, licik” suara itu bergema di sekeliling taman.

            Rosa yang ketakutan memutuskan lari meninggalkan taman. Ia menariknya dengan tali yang tak bisa Rosa lihat. Rosa berteriak minta tolong. suara itu masih bergema di kepala Rosa. Angin bertiup kencang menandakan sebentar lagi penyiksaan akan dimulai.

            Rosa berhasil lari meninggalkan taman. Tapi sebenarnya itu bukan keberhasilan Rosa, ia sengaja melepaskan Rosa agar menuju tempat yang ia inginkan. Rosa terus berlari dan ia mengikuti Rosa dari belakang dengan tertawa. Rosa semakin takut dan berteriak. Rosa kembali ke koridor sekolah dan naik ke lantai atas. Rosa bersembunyi di balik tong sampah besar berwarna biru. Tubuh Rosa dibanjiri keringat. Rosa meutup mulutnya dengan tangannya agar tak terdengar.

            “Rooosaaaa” katanya

            …..hmph…. Rosa mulai ngos-ngosan. Keringat bercucuran, badannya basah. Tangannya gementar, ketakutan menyelimutinya.

            “Ketemu” ia berada diatas Rosa

            Rosa lari dan terjebak. Rosa melihat kebawah dan hanya ada jalan. Jika rosa melompat maka akan terluka atau bisa mati. Rosa berfikir bagaimana cara agar bisa selamat dari kejarannya. Ia mendorong rosa dan..

            ..bruk..

            Rosa terjatuh. Rosa terlentang dan berlumuran darah, namun masih selamat. Rosa dibuatnya naik ke lantai atas dan menjatuhkan dirinya terus menerus.

            …bruk...

            …bruk…

            …bruk…

            Semakin banyak darah Rosa yang tumpah. Saat keempat kali Rosa jatuh, ia pun tewas. Rosa sang juara telah musnah. Aku tersenyum melihat siksaan darinya untuk Rosa. Ia kembali ke kamarku dan tersenyum puas. Ia membawa kepala Rosa yang masih berceceran darah.

            “Letakkan di kulkas. Mungkin mama ingin memasak sup kepala. Papa sudah membawa kaki kemarin” kataku dengan wajah senang.

            Keesokan harinya aku datang ke sekolah dengan wajah ceria. Aku berjalan menuju kelas dengan tas ranselku.

            “Eh Rosa kamu makin cantik ya kayak Ria” kata salah satu teman

            “Iya dong kan aku sang juara” kataku

            Seperti apa keinginannya, Rosa menjadi sang juara. Rosa dipuja semua orang. Kepintarannya, kecantikannya dan kebaikannya. Satu yang tidak mereka sadari, Rosa tak pernah lagi berkata aku tak pernah belajar.