My Blog

Minggu, 04 Oktober 2020

CERPEN HOROR 3

1..2...3..Cekrik


Malam itu, Dini duduk di sofa ruang tamu. Ia memiliki satu adik laki-laki yang bernama Denta.  Saat itu, ia berumur 15 tahun dan adiknya berumur 10 tahun. Dini sangat suka mengabadikan moment dengan memfoto, ia memang ahli dalam seni. Bakat itu ia dapat dari ayahnya seorang pelukis. Rumah mereka sangat aesthetic, dari luar rumah disuguhkan lampu petromak. Ayahnya sangat suka mengoleksi barang-barang antik termasuk keris. Denta yang datang dari arah kamar menghampiri Dini.

“Mbak, deloken tabletku anyar” kata Denta sambil mengangkat tablet.

(Mbak, lihat tabletku baru)

 “Halah, kemenyek” kata Dini sambil melirik adiknya.

(Halah, sok-sokan)

Dini yang kesal langsung bermain gawai. Denta membuat mood swings Dini. Tiba-tiba ayahnya datang membawa kamera kuno yang ia beli di online shop.

“Assalamualaikum” kata ayahnya Dini sambil membuka pintu.

“Waalaikumsallam” jawab mereka.

Ibu dini yang di dapur langsung keluar dan menyambut suaminya.

“Gowo apa iku yah?” kata ibunya Dini penasaran

(Bawa apa itu yah?)

“Kamera lawas, tuku nang olshop” kata ayahnya Dini sambil menunjukkan kotak kardus yang berisi kamera.

(Kamera jadul beli di olshop)

“Tak jupuke gunting” kata ibunya Dini lalu ke dapur.

(Saya ambilkan gunting)

“Wih keren iki. Kamera lawas iku regane larang ya yah?” kata Dini penasaran

(Wih keren ini. Kamera jadul itu harganya mahal ya yah?)

“Iyo, tapi mergo ayah seneng koleksi barang antik lan ora duwe kamera yo tak tuku wae. Sesok yen liburan bisa poto-poto” kata ayahnya Dini

(Iya, tapi karena ayah suka koleksi barang antik dan tidak punya kamera ya saya beli aja. Besok kalau liburan bisa foto-foto)

“Kapan yah liburane?” tanya Denta penasaran

“Yo sesok yen ayah prei” kata ayah Dini

(Ya besok kalau ayah libur)

Ibunya Dini datang membawa gunting. Ayah Dini membuka isi kotak kardus itu. Terlihat kamera yang dibungkus bubble wrap. Kamera itu berwarna coklat klasik dan terlihat masih bagus.

“Piye? Apik to?” kata ayahnya Dini sambil tertawa.

(Gimana?Bagus kan?)

“Wih iyo, sangar eh” kata ibunya Dini

(Wih iya, keren eh)

Ayah dini mencoba kamera itu. Ia mencoba memfoto pintu dan hasilnya ternyata berwarna. Ia kira hasil fotonya akan hitam putih, ternyata sudah di upgrade. Setelah puas dengan hasil foto, ayah dan ibunya Dini masuk ke kamar istirahat karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dini yang masih penasaran dengan kamera itu melihat-lihat hasil foto ayahnya tadi. Memang kameranya kuno namun kontras dan warna hasil foto sangat bagus pikirnya. Ia mencoba memfoto tangga di depannya. Hasilnya masih sama bagusnya dengan hasil foto ayahnya. Adiknya memiliki ide

“Mbak, fotoen aku pas gowo tablet anyarku” kata Denta sambil menjentikkan tangan.

(Mbak, fotoin aku saat bawa tablet baruku)

“Emoh, arek kok seneng pamer” kata Dini kesal

(Gak mau, anak kok sukanya pamer)

“Rapopo ta mbak, age lah” kata Denta memaksa

(Gak apa-apa dong mbak, ayo lah)

“Ya wis ndang” kata dini sedikit kesal.

(Yasudah ayo)

“Sek tak nang kamar mandi, kebelet pipis aku” kata Denta

(Sebentar aku mau ke kamar mandi, kepingin kencing)

“Ya cepetan” kata Dini

(Ya, buruan)

Adiknya langsung lari ke kamar mandi dengan terbirit-birit. Kamera yang ia pegang masih menyala. Ia mencoba mengarahkan ke pintu, tiba-tiba ada yang mengintip dan matanya melotot. Mata dini langsung melotot dan melihat ke arah pintu.

“Astagfirullahaladzim apa kuwi” Dini sangat kaget.

(Astagfirullahaladzim apa itu)

Namun tidak ada apa-apa disana. Ia mencoba mengarahkan kamera ke arah tangga. Tiba-tiba ada nenek-nenek duduk disana. Lagi-lagi dini melotot karena terkejut. Ia melihat ke arah tangga dan tidak ada siapapun. Terdengar siul dari adiknya yang keluar dari kamar mandi. Adiknya menuju kearah Dini yang masih syok.

“Ayo mbak” kata Denta sambil memegang tablet

Dini masih syok namun ia tak mau bercerita karena ia menganggap salah lihat saja. Denta berpose dengan membawa tablet. Denta berdiri dengan jarak 100 cm. Saat Dini melihat ke arah layar hanya ada adiknya saja yang membawa tablet. Namun saat ia melihat hasil fotonya, ada nenek-nenek yang berdiri di belakang adiknya.

“Piye mbak? Apik ora?” kata Denta penasaran.

(Gimana mbak? Bagus tidak?)

“Baleni, burek iki” kata Dini sedikit menahan takut.

(Ulang, kurang jelas ini)

Adiknya percaya dan mengulangi foto. Hasil foto kedua terlihat nenek itu berjarak 50 cm dari tempat Dini. Ia mengulanginya lagi. Saat foto ketiga, layar kamera menjadi gelap. Saat Dini menurunkan kameranya, ternyata wajah nenek itu tepat di hadapan Dini. Jarak antara wajah Dini dan nenek itu hanya 5 cm saja. Mata nenek itu melotot, Dini gemetar dan berteriak. Ia tak sengaja melempar kamera ayahnya. Ayah dan ibunya Dini kaget mendengar teriakan dini.

“Ana apa to Din?” kata ibunya Dini

(Ada apa Din?)

“Iyo kamerane kok mbok uncalke piye iki?” kata ayahnya Dini

(Iya kameranya kok kamu lempar gimana ini)

Wajah dini pucat dan ia mengatakan 

“Ana si mbah yah, deloken dewe” sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

(Ada nenek yah, lihat sana sendiri) 

Dini sangat ketakutan dan menangis. Badannya gemetar dan ia merasa lemas.Denta hanya diam seperti patung karena tak mengerti. Ayah dan ibunya Dini yang tak percaya langsung melihat hasil foto di kamera. Terlihat hanya ada adiknya saja. 

“Ora ana apa-apa ngene loh Din. Awakmu halu palingan” kata ayahnya Dini sambil melihat hasil foto

(Tidak ada apa-apa gini loh Din. Kamu halu mungkin)

“Tenan yah, ora ngapusi aku” kata Dini

(Beneran yah, aku tidak bohong)

“Wis turu kono” kata Ibunya Dini

(Sudah tidur sana)

Mereka menganggap Dini hanya berilusi saja. Dini mulai lemas dan pingsan. Setelah kejadian itu dia menjadi demam Saat ia sembuh ia mencari tahu siapa pemilik kamera yang dibeli ayahnya. Ternyata si Mbah yang dilihatnya adalah pemilik kamera itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar