SANG JUARA
"Apa
kau akan melakukannya?" Kataku sambil memakan buah apel.
"Ya
tentu" katanya sambil berbisik. Ia tak ingin suaranya terdengar oleh mama.
Walaupun aku tahu, tak akan pernah ada orang yang mendengarnya.
Aku
pergi ke balkon kamarku. Aku melihat sang surya telah bangun. Aku tak menyangka
aku bisa bangun sepagi ini. Biasanya aku terlambat masuk sekolah karena
ulahnya. Entah itu mematikan alarm atau menutup telingaku. Hari ini
kelihatannya kami sedang berbaikan.
Aku
meregangkan otot-otot kaku.
Kretek...
"Uh
enaknya" kataku sambil meregangkan kedua tangan.
Terdengar
dari bawah mama sudah berteriak memanggilku dengan sebutan Ria. Walaupun itu
bukan namaku. Aku pun meninggalkan jejak tanganku di kayu pagar balkon. Aku
menuruni tangga siku-siku yang hanya 15 langkah dan menuju ruang makan. Aku
melihat mama menyiapkan sarapan dan papa duduk manis sambil membaca koran.
"Pa,
ma selamat pagi" kataku sambil menyeret kursi lalu duduk.
"Pagi"
kata mereka tanpa menatapku
Mama
menaruh telur mata sapi diatas piringku. Tak seperti biasanya kami memakan
daging. Mungkin stok daging sudah habis. Papa melipat koran dan memandangku.
Sebetulnya aku tak menyukai pandangan papa karena papa selalu memandangku penuh
teka teki. Aku tau papa tak menyukainya karena dia pernah menjatuhkan guci papa
saat bermain denganku. Aku tak menyangka papa bisa melihat dan mendengarnya.
"Apa
yang akan kamu lakukan bersamanya" kata papa sambil mendekap tangan
"Tak
ada ku rasa" kataku sambil melihat arah tangga.
Aku
melihat dia bersembunyi karena takut melihat papa. Papa sangat galak katanya
walaupun bagiku tak begitu. Hanya saja papa akan galak jika ada yang membantah.
"Hari
ini papa antar kamu" kata papa sambil memotong telur mata sapi menjadi
empat bagian.
Mama
ikut bergabung makan dengan kami. Mama menuang jus orange untukku.
"Ma,
tumben bukan daging" kataku sambil memakan telur mata sapi
"Ya
mau gimana lagi, belum panen" kata mama sambil memotong telur sedikit demi
sedikit. Mama tak terlalu menyukai telur, mama lebih menyukai daging dengan
sirup merah kental.
Setelah
sarapan pagi aku kembali ke kamarku untuk bersiap-siap. Dia duduk di kasur dan
melipat tangannya. Dia terlihat sedih ketika aku sekolah. Setiap kali aku pergi
ke sekolah dia selalu ingin ikut. Katanya jika di rumah bertemu papa dia akan
dimarahi tapi jika bertemu mama dia akan disuruh-suruh. Dia sangat bosan hanya
di kamarku. Tapi mau bagaimana lagi, dia akan mengacaukan semuanya jika ikut
bersamaku apalagi emosinya yang tak stabil.
“Aku
berangkat dulu” kataku lalu beranjak pergi
Papa
sudah menungguku di bawah. Kami berangkat menaiki mobil hitam. Sebetulnya aku
tak menyukai mobil papa karena terkadang bau anyir tercium oleh indera pembau
ku.
Hanya
butuh beberapa menit kita sampai di depan sekolahku. Aku turun dari mobil dan
berjalan ke sekolah. Saat di depan gerbang, papa melambaikan tangannya padaku
aku pun membalasnya. Aku berjalan dengan hati gembira karena aku akan mengganti
semuanya.
“Eh
ria, dianter papa kamu ya” kata Rosa yang datang tiba-tiba
“Iya
rosa” kataku sambil membenarkan poni
“Kamu
uda belajar belum?” kata rosa merangkul pundakku
“Sudah”
kataku
“Yah
aku belum gimana dong” katanya dengan muka cemas
“Oalah
ya kamu bisa belajar selama 20 menit sebelum bel masuk” kataku dengan santai
Dia
meninggalkanku dan menuju ruang kelas. Aku menyusulnya dengan jalan bersantai.
Rosa
adalah perempuan yang pintar dan beruntung. Dia selalu mendapat juara kelas
namun urutan kedua. Dia adalah seorang pembohong besar bagiku karena dia selalu
berkata tak mengerti, tak belajar namun hasil ujiannya selalu bagus. Dia sangat
ingin menjadi perempuan paling pintar dan dipuja di seluruh dunia. Dia bahkan
melakukan apapun agar dia bisa mencapai keinginannya.
Jam
pelajaran dimulai, hari ini berlangsung ujian matematika. Aku mengerjakan ujian
dengan santai karena aku sudah belajar dan memahami materi. aku melirik ke arah
rosa yang kebetulan ada di depanku. Ia terlihat melirik sesuatu di dekat Putri
si juara satu. Aku tahu dia akan memulai aksinya.
“Apaan
tuh put?” kata Rosa menoleh kearah Putri
Sontak
semua orang kaget dan menoleh kearah Putri termasuk bu Reta.
“Ada
apa Rosa?” kata bu Reta
“Itu
bu saya lihat ada kertas di loker meja Putri” kata Rosa
“Gak
mungkin, aku ga nyembunyiin apapun kok” kata putri
Bu
Reta menuju bangku putri, ia merogoh loker mejanya. Ternyata benar ada contekan
rumus. Semua murid melihat ke arah bu Reta.
“Apa
ini?” kata bu Reta
“Buu..bukan
saya bu” kata Putri sambil ketakutan
“Lalu
apa kertas ini tiba-tiba ada di lokermu? Mustahil!” kata bu Reta
“Tapi
bu saya..” belum selesai Putri menjelaskan bu Reta memotongnya
“Sudah,
ikut ibu ke ruang kepala sekolah” kata Bu Reta menarik tangan putri.
Putri
pun dibawa ke ruang kepala sekolah. Putri di introgasi oleh kepala sekolah. Ia
tetap mengaku bahwa ia tak menyontek dan tak tahu apapun tentang kertas itu.
Bapak kepala sekolah tentu saja tak percaya dan melihat cctv kelas.
“Baik,
biar cctv berbicara” kata kepala sekolah
Putri
menghela nafas karena akan terbukti bukan dia pelakunya. Saat di putar rekaman
cctv kelas ternyata cctv waktu itu dimatikan. Kepala sekolah menduga bahwa
putri sengaja melakukannya agar tidak ada yang tahu.
“Benar-benar
keterlaluan kamu putri. Kamu sudah saya beri beasiswa tapi kamu melakukan hal
yang tak senonoh?” kata kepala sekolah dengan marah
“Tapi
bu, bukan saya” kata putri sambil meneteskan air mata
“Sudahlah,
saya akan mencabut beasiswa kamu karena saya tak bisa memberikan beasiswa
kepada murid yang tidak jujur” kata kepala sekolah dengan tegas
Putri
hanya bisa bersedih karena beasiswa adalah satu-satunya cara agar dia bisa
bersekolah. Putri kembali ke ruang kelas dan membereskan buku-bukunya. Ia pergi
dari ruang kelas. Rosa terlihat sangat puas karena rencananya berhasil.
Bel
istirahat berbunyi. Semua murid pergi ke kantin kecuali aku. Aku mendengarkan
music di kelas karena aku membawa bekal. Aku tak suka makanan kantin karena
membuatku alergi. Memang sangat higienis dan harganya tak terlalu mahal tapi
aku lebih menyukai masakan mamaku. Rosa dan teman-temannya menghampiriku sambil
membawa cilok.
“Eh
gimana ujian tadi susah ya?” katanya dengan sangat lugu
“Iya
nih aku tadi gak bisa 5 nomor” kata temannya
“Aku
juga banyak yang gabisa” kata temannya
“Kamu
gimana Ria? Susah ga?” kata Rosa dengan muka lugu
“Biasa
aja” kataku sambil melihat gawai tanpa meliriknya
Bel
masuk pun berbunyi. Semua murid masuk ke kelas. Bu Reta datang dengan membawa
hasil ujian. Aku tak menyangka bu Reta cepat juga mengoreksi ujiannya.
“Anak-anak,
di jam kelima ini saya membagikan ujian kalian” kata bu Reta
Bu
Reta mulai menyebutkan nama dengan hasil ujiannya. Saat bu Reta memanggil nama
Rosa
“Rosa
95” kata bu Reta
Semua
murid tepuk tangan karena sebelumnya semua nilai sangat jelek. Sementara hanya
Rosa yang paling bagus
“Bagus
sekali Rosa, pertahankan ya” kata bu Reta
“Terimakasih
bu” kata rosa dengan senyum liciknya
“Nah
begini anak-anak contoh yang baik. Lihat Rosa dia pasti tekun belajar sampai
mendapat nilai yang sangat bagus padahal soal yang ibu beri sangat susah” kata
bu Rosa.
Bu
rosa melanjutkan menyebutkan nama dan hasil ujiannya. Saat tiba giliranku
“Ria,
100” kata Bu Reta
Sontak
seluruh kelas langsung heboh
“Waw
gila” kata salah satu murid
Aku
menuju meja bu Reta mengambil hasil ujianku
“Selamat
ya Ria. hebat sekali kamu” kaat bu Reta sambil tersenyum kepadaku
“Terimakasih
bu” kataku tanpa tersenyum. Aku berbalik badan dan melihat wajah Rosa kesal.
Aku tahu, dia akan masuk dalam jebakanku.
Bel
pulang terdengar. Rosa menghampiriku dan teman-teman di tempat duduk seperti
terminal.
“Wah
Rosa pinter banget sih” kata salah satu teman
“Ah
engga aku ga belajar padahal” kata rosa dengan wajah lugu. Aku benar-benar muak
melihat dia dan mendengar kata-kata pamungkasnya. Ingin ku ambil saja pita
suaranya agar tak pernah berkata seperti itu lagi.
“Ah
papa ku sudah datang. Aku duluan ya”
kataku lalu naik mobil. Papa tak menyambut teman-temanku karena di mobil papa
bukan hanya papa. Sangat membuatku muak jika papa membawanya lagi. Bau anyir
terus menggangguku. Uh, menyebalkan jika papa membawa daging yang masih berbau.
“Baru
ya pa?” kataku sambil melihat spion depan
“Iya,
dia tak bisa diam” kata papa sambil memutar lagu
Beberapa
menit kemudian aku dan papa sampai di rumah. Saat ku buka pintu, mama
menyambutku dengan pelukan. Aku membalas pelukan hangat mama. Aku naik menuju
kamarku. Aku memanggilnya tapi sepertinya ia tak mendengarku.
Aku
berbaring di ranjangku. Ku lepas dasi yang sebenarnya sedikit mengikat leherku
karena kancing kerah aku tutup. Memang terlihat sedikit culun namun ini demi
menutupi lukaku.
“Kau
sudah pulang” wajahnya tepat di atas wajahku.
“Ya,
bisakah kau minggir” kataku sambil mendorongnya
Tak
sampai dia terjatuh. Dia mulai tertawa kecil, sepertinya dia tau apa yang telah
terjadi. Tapi bisa jadi ini ulahnya karena dia bosan di kamarku.
“Apa
kau tau? Apa yang dilakukan Rosa?” kataku sambil melepas karet di rambutku
“Tentu
saja” katanya sambil melihat nilai ujianku
“kenapa
dia melakukannya? Apa itu ulahmu?”
“
Ya tentu saja. Bagaimana? Apa kau menikmatinya?”
“Ya
sedikit. Apa yang kau katakan?”
“Hanya
bergurau saja” katanya dengan tertawa khasnya
“Apa?”
kataku penasaran
“Jika
kau tak bisa membuat dirimu unggul, buat saja orang yang lebih unggul darimu
menjadi bodoh. Apa kau paham?” katanya sambil mengangkat salah satu alisnya
“Waw, kau sangat licik” kataku
Dia
hanya tertawa dengan begitu keras.
Mungkin seluruh kota bisa mendengarnya namun tak ada yang bisa mendengarnya
kecuali aku.
Keesokan
paginya, bu Reta mengadakan ujian lagi. Kali ini bu Reta hanya menggantikan bu
Resi yang sedang sakit. Bu Reta membagikan kertas ujian tapi tiba-tiba bu Reta
berhenti tepat di antara mejaku dan meja Nisa. Bu Reta menunduk lalu melihat
loker meja Nisa dan ternyata ada kertas disana. Bu Reta mengambil kertas itu
dan isinya adalah contekan. Sekali lagi Rosa memenangkan game ini.
Hal
ini terus terjadi ketika ujian. Banyak murid yang peringkat dibawah Rosa atau
yang selalu dipuji oleh para guru menjadi jatuh. Banyak guru yang kecewa dengan
sikap mereka namun ada juga yang penasaran kenapa bisa mereka melakukan itu.
Hanya tersisa aku yang belum diajak bermain oleh Rosa.
Hari
ini Rosa mempersiapkan jebakan untukku. Namun kali ini bukan cara klasik, cara
ini sangat istimewa. Rosa tak tahu kalau ini adalah the end game untuknya. Saat di kelas..
“Eh
Ria, boleh minjem hp gak?” katanya dengan wajah polos
“Untuk
apa?” kataku tanpa melihat wajahnya. Pandanganku fokus ke buku paket yang
sedang ku baca.
“Iya
gapapa, lagi bosan” katanya
Awalnya aku tak ingin memberikan ponselku karena aku yakin, Rosa
akan melakukan hal yang bisa menjatuhkanku. Tapi tiba-tiba aku melihatnya duduk
diatas ranting pohon dan memberiku isyarat untuk mengiyakan apa yang Rosa
minta. Akupun menurutinya karena selebihnya ku serahkan padanya
“Nih”
aku menyodorkan hpku
“Makasih
ya” katanya lalu membalikkan badan
Ternyata
Rosa memberi chat jawaban soal ujian
yang akan dimulai. Tak segan-segan Rosa memberikan foto soal yang Rosa curi
agar nantinya bu Reta menganggap aku mencuri soal ujian. Akupun semakin membuat
rencananya lebih mulus dengan berpura-pura ke kamar mandi. Rosa mendekati tasku
yang kebetulan ku taruh diatas meja lalu memasukkan soal ujian ke tasku. Rosa
juga mengirimkan chat di grup berupa
jawaban soal ujian melalui hp ku agar saat ujian nanti semua hp berbunyi. Dia
mengatur waktu agar chat bisa terkirim dengan tepat waktu. Benar-benar rencana
yang sangat matang.
Aku
kembali ke kelas dan bu Reta juga datang. Setelah bu Reta berpidato singkat
tentang ujian beliau meminta semua tas berada di depan agar bisa diperiksa.
Selain itu beliau juga memeriksa loker meja setiap murid. Saat beliau membuka
tasku, ada soal ujian di dalam tasku. Beliau sangat terkejut dan tak percaya akan
hal itu.
“Apa
ini?” kata bu Reta sambil membanting kertas soal ujian
Aku
bersikap seolah-olah tak tahu apa-apa. Tiba-tiba hp semua murid berbunyi
bersamaan termasuk hp bu Reta. Tertulis aku mengirim jawaban dari soal ujian
dan itu jawaban yang benar. Bu Reta langsung menamparku.
“Kau
sangat keterlaluan” bentak bu Reta
Aku
diam dan dingin. Sebentar lagi semua akan berakhir kataku dalam hati. Aku di
seret bu Reta dengan kasar ke ruangan kepala sekolah. Bu Reta sangat marah saat
menjelaskan kejadian tadi. Aku hanya diam seribu kata dan hanya mendengarkan
ocehan mereka. Kepala sekolah memutuskan untuk mengeluarkanku dari sekolah
karena hal tak pantas sudah ku lakukan. Aku pergi meninggalkan ruangan kepala
sekolah dan berjalan senang.
“Mungkin
sekarang kau senang, tunggu beberapa jam setelah ini” kataku bergumam
Aku
mengambil tasku lalu pergi meninggalkan kelas. Bu Reta menjelaskan bahwa aku
dikeluarkan dari sekolah dan menunda ujian. Bu Reta pergi meninggalkan kelas
mengambil buku yang ada di mejanya. Bu Reta kaget setengah mati ada kertas
ujian dengan darah di meja bu Reta. Tanpa pikir panjang bu Reta membuang kertas
itu lalu pergi. Pelajaran biasa dimulai, semua murid bergumam tentangku. Semua
murid tak bisa mempercayai jika aku melakukan hal itu. Hanya demi mendapat
nilai bagus, apa aku harus mencuri? Itu menjijikkan. Aku tak benar-benar
pulang. Aku menemaninya di taman dekat sekolah. Dia bermain dengan gembira.
“Apa
selanjutnya?” kataku sambil menatap dia
“Pulanglah.
Aku yang menunggunya disini” katanya dengan serius
Aku
pulang dengan berjalan kaki. Terdengar bel pulang sekolah berbunyi. Rosa pulang
jalan kaki melewati taman dekat sekolah. Rosa duduk di ayunan dan bergumam
sendiri
“Akhirnya,
kini aku menjadi sang juara. Hanya aku yang akan dipuji hanya aku yang akan
terpandang” katanya sambil tertawa jahat.
Tiba-tiba..
“Apa
kau senang” wajahnya tepat di wajah Rosa
“Ss…siapa kau?” kata Rosa sambil ketakutan
Aku
sudah sampai di rumah. aku tak menceritakan kejadian di sekolah kepada
orangtuaku. Aku masuk ke kamar dan mengintai perbuatannya dengan Rosa melalui
teropong.
“Bagaimana
rasanya? Hahahahaha. Dasar wanita maruk, pendusta, licik” suara itu bergema di
sekeliling taman.
Rosa
yang ketakutan memutuskan lari meninggalkan taman. Ia menariknya dengan tali
yang tak bisa Rosa lihat. Rosa berteriak minta tolong. suara itu masih bergema
di kepala Rosa. Angin bertiup kencang menandakan sebentar lagi penyiksaan akan
dimulai.
Rosa
berhasil lari meninggalkan taman. Tapi sebenarnya itu bukan keberhasilan Rosa,
ia sengaja melepaskan Rosa agar menuju tempat yang ia inginkan. Rosa terus
berlari dan ia mengikuti Rosa dari belakang dengan tertawa. Rosa semakin takut
dan berteriak. Rosa kembali ke koridor sekolah dan naik ke lantai atas. Rosa
bersembunyi di balik tong sampah besar berwarna biru. Tubuh Rosa dibanjiri
keringat. Rosa meutup mulutnya dengan tangannya agar tak terdengar.
“Rooosaaaa”
katanya
…..hmph….
Rosa mulai ngos-ngosan. Keringat bercucuran, badannya basah. Tangannya
gementar, ketakutan menyelimutinya.
“Ketemu”
ia berada diatas Rosa
Rosa
lari dan terjebak. Rosa melihat kebawah dan hanya ada jalan. Jika rosa melompat
maka akan terluka atau bisa mati. Rosa berfikir bagaimana cara agar bisa
selamat dari kejarannya. Ia mendorong rosa dan..
..bruk..
Rosa
terjatuh. Rosa terlentang dan berlumuran darah, namun masih selamat. Rosa
dibuatnya naik ke lantai atas dan menjatuhkan dirinya terus menerus.
…bruk...
…bruk…
…bruk…
Semakin
banyak darah Rosa yang tumpah. Saat keempat kali Rosa jatuh, ia pun tewas. Rosa
sang juara telah musnah. Aku tersenyum melihat siksaan darinya untuk Rosa. Ia
kembali ke kamarku dan tersenyum puas. Ia membawa kepala Rosa yang masih
berceceran darah.
“Letakkan
di kulkas. Mungkin mama ingin memasak sup kepala. Papa sudah membawa kaki
kemarin” kataku dengan wajah senang.
Keesokan
harinya aku datang ke sekolah dengan wajah ceria. Aku berjalan menuju kelas
dengan tas ranselku.
“Eh
Rosa kamu makin cantik ya kayak Ria” kata salah satu teman
“Iya
dong kan aku sang juara” kataku
Seperti
apa keinginannya, Rosa menjadi sang juara. Rosa dipuja semua orang.
Kepintarannya, kecantikannya dan kebaikannya. Satu yang tidak mereka sadari,
Rosa tak pernah lagi berkata aku tak pernah belajar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar